Asep Wahyuwijaya Nilai Bersih-Bersih di BUMN Energi Harus Total

goyalorthodontics.com, Jakarta -Governance dalam kompory energi SUMP sekali lagi dalam Pertemuan Perumahan (RDP) dengan Rapat Kepemimpinan (RDP) dari House of Representative Commission (RDP) -Along dengan Kepemimpinan Perusahaan Bumn, Simon Sempiring.

Selama pertemuan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat VI ASEP Wahyuwijaya berulang kali menekankan pentingnya meningkatkan sistem pengawasan internal untuk mencegah praktik korupsi.

Baca Juga: Baleg DPR Panggilan Menpan-RB Kegagalan untuk menjalankan mandat ASN Law 2023

Pertemuan di Parlemen House, Jakarta, Selasa (11/3) mengatakan, “Sangat diharapkan untuk melakukan perubahan dan memastikan bahwa perusahaan BUMN ini bersih.”

ASEP juga mengingatkan pertemuannya dengan Menteri Bamman Eric Thohir, yang membahas kemahiran di perusahaan -perusahaan negara. Namun, segera setelah itu, salah satu unit komersial perusahaan mencuat kasus korupsi.

Baca Juga: Tidak Menurut Pengukuran Minyak, Speaker DPR mengekspos sisi penawaran sehingga tidak mengganggu

“Kami berbicara tentang efisiensi, tetapi telah keluar untuk meledakkan masalah di perusahaan ini. Ini ironi,” katanya.

ASEP membandingkan anggaran untuk Badan Perlindungan Konsumen, yang hanya RP8,9 miliar per tahun dengan kemungkinan kerugian negara karena sindikat korupsi yang mencapai Rp100 triliun per tahun.

Baca juga: 6 universitas yang terkenal berkolaborasi dengan DPRKP untuk pengaturan pemukiman dan kualitas perumahan.

Menurutnya, itu mencerminkan kelemahan tata kelola dan pengawasan di berbagai bidang, termasuk perusahaan BUMN Energy.

Selain itu, ASEP menyoroti keberadaan sindikat kejahatan yang telah bekerja sejak lama. Dia mempertanyakan efektivitas pengawasan internal dalam mencegah penipuan.

“Bagaimana kejahatan ini bisa terjadi selama bertahun -tahun tanpa kendali,” katanya.

ASEP menekankan perlunya perbaikan skala besar di tubuh perusahaan dengan memprioritaskan teori meritokrasi.

“Kami membutuhkan orang -orang yang tidak terlibat dalam praktik yang dapat diandalkan, profesional dan korupsi,” katanya.

Dia juga mempertanyakan kemajuan implementasi subsidi pada target, terutama terkait dengan kasus bersubsidi dengan biaya hingga RP3.6 triliun.

“Ini adalah perusahaan Bumn Nombokin. Atas nama SOE Synergy, penjualnya Telkom, yang memberikan subsidi, Tuan. Tetapi data subsidi tidak ada, sehingga perusahaan tidak dapat mengklaim untuk Kementerian Keuangan,” jelasnya.

Selain itu, ASEP meminta peran perusahaan di Bumn Holding dan Antara, yang baru saja diresmikan, tetapi menghadapi berbagai pertanyaan publik. Dia menekankan pentingnya rekonstruksi perusahaan SOE Energi ini, dan pantai, dan kepercayaan publik pada pemerintah pusat. (Tan/jpnn) Ayo, tonton video ini juga!

Baca artikel lain … Amandemen Hukum TNI dianggap mengubah fungsi, aliansi masyarakat sipil untuk dorongan DPR untuk melakukannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *