goyalorthodontics.com – Gubernur Lemhana Ace Hassan Seatsili menanggapi kontroversi atas tinjauan Undang -Undang TNI, yang kemudian ditandai oleh masyarakat.
Menurutnya, amandemen undang -undang TNI tidak dapat dipanggil sebagai upaya untuk mengambil apartemen Afri yang baru, seperti yang dicatat oleh warga negara.
Baca ini: Ahmad Ludfi Dni-Polly meminta laras senjata panjang ketika datang ke rumah Lebaran
“Sejauh ini, menurut saya, ini masih dalam konteks supremasi sipil, ya,” kata Ace di Balai Kota DKI pada hari Senin (3/17).
ACE menjelaskan bahwa tinjauan Undang -Undang TNI, termasuk status berbagai perusahaan yang dilakukan oleh DNI, tidak diterbitkan dalam undang -undang saat ini.
Baca juga: Pertemuan TPR di Hotel Mewah tentang RUU TNI yang menempati para penggemar, itulah yang terjadi
“Beberapa kondisi fisik yang tidak ditempatkan di bingkai TNI, jadi ya, sekarang harus disimpan.
Politisi Kolkar, pada kenyataannya, memiliki beberapa posisi di agensi atau kementerian, yang masih TNI.
Baca ini: Metawati menolak RUU TNI, Mrs. Bhuvan Ptip.
Dia memberi contoh seperti National Disaster Management Institute (PNPP), National Anti -Foreign Company (PNPD), dan Cyber dan State Sandy Agency tempat TNI, tetapi tidak diatur dalam undang -undang.
“Saya pikir perusahaan harus mempertahankan kedaulatan negara kita agar sesuai dengan kapasitas dan konsentrasinya,” kata Ace.
Sementara itu, Angkatan Darat Nasional Indonesia (RUU TNI) telah menyerukan peninjauan UU ke -34 tahun 2004, terutama bagian 47 kritik yang berbeda.
Bagian 47 memiliki kemampuan untuk memperluas ruang anggota TNI aktif dalam posisi sipil dengan menambahkan frasa dalam paragraf (2), yaitu: “Kementerian/lembaga lain yang membutuhkan pemain aksi dan keahlian sesuai dengan kebijakan Presiden.” (Mcr4/jpnn)